Tampilkan postingan dengan label JIHAD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JIHAD. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Mei 2010

KH Kholil Ridwan Sebut Imam Samudra Mujahid


JOGOKARYAN - Pada hari ahad 18 april 2010 DPW Wahdah Islamiyah Yogyakarta mengadakan tablig akbar dengan tema “persatuan islam”.Hadir dalam acara tersebut ketua MUI KH Kholil Ridwan sebagai pembicara dan Ust Zaitun sebagai Ketua Pusat Wahdah Islamiyah dari Makasar.

Pada pembukaan acara, Ustad Jazir ASP sebagai ketua takmir Masjid Jogokaryan menuturkan, bahwa dalam dunia dakwah saat ini banyak terjadi hal yang memprihatinkan, salah satu contoh di tahun 2005, telah terjadi pemurtadan di DIY sebanyak 5000 orang dari total 3.150.000 total warga DIY. Hal ini ditambah lagi dengan fragmentasi dari berbagai ormas Islam dan kurang pekanya terhadap keadaan ini.

Pada pemaparan sekanjutnya, KH Kholil Ridwan memaparkan kriteria seorang pemimpin umat islam di indonesia yang ideal. Beilau mengutarakan lima hal, yaitu seorang pemimpin umat islam harus alim, amil, sholih, mujahid, dan mukhlis, beliau juga menyinggung bahwa Imam Samudra dan para pelaku Bom Bali 1 adalah mujahid dan telah mendapatkan karunia syahid insya Alloh.

Pada pemaparan materi selanjutnya, Ustad Zaitun mengutarakan pentingnya ukhuwah islamiyah untuk menuju kejayaan umat. Beliau mengutarakan hal hal yang menjadi landasan ukhuwah diantaranya ilmu, iman, akhlak, dan menerapkan syariah dalam semua kehidupan. Dengan adanya acara tablig akbar seperti ini diharapkan akan terjalin ukhuwah islamiyah antar ummat Islam sehingga kejayaan Islam dapat segera terwujud.

[muslimdaily.net/wijanarko]

Jumat, 23 April 2010

Duhai Lelaki yang Memiliki Iman...



Dadaku sesak
Setiap kali melihat ceceran darah itu
Tubuh yang terpisah dari kepalanya
Usus yang terburai
Kepala yang pecah
Tubuh yang hangus terbakar
Muslim-muslimah yang ditelanjangi.

Amarahku membara.
Setiap kali kumelihat seringai tawa itu
Sorot mata yang penuh nafsu
Mulut yang senantiasa berucap kehinaan
Tangan yang senantiasa menyiksa mencabik kehormatan
Kaki yang senantiasa menendang dan memburu
Bak singa yang kelaparan
Tingkah tak ubahnya binatang
Tak pantas disebut manusia.!

Fathimah, Nadia, Aisyah
Siapa lagi yang akan terenggut kehormatannya
dipenjara yang pengap itu?

Oh Rabbi,
Mereka memandangku
Matanya begitu sayu
Namun bibir itu bertasbih, bertahmid, bertakbir
Mereka meronta meminta belas kasih saudaranya.

Ya Rabbi,
Mereka berteriak
Innamal mu’minuuna ikhwah
Innamal mu’minuuna ikhwah
Mereka menagih kalam-Mu itu pada kami.

Ya Rabbi,
Hati ini bertanya
Apakah masih ada yang menyambut seruan itu?
Seruan meminta pertolongan
Selamatkan izzah kami, selamatkan agama yang ada dihati kami!!!

Ya Rabbi,
Bahkan mereka mengancam
Kan kuadukan kehormatanku pada Mu ya Allah,
Mereka saudara-saudaraku tak lagi peduli pada ayat-ayat-Mu,
”Barangsiapa meninggalkan saudaranya yang membutuhkan pertolongan
maka dia akan ditinggalkan oleh-Nya ketika terdesak dalam kesulitan.”

Ohhh...Rabbul Izzati,
Apa yang harus kulakukan ?
Hanya lisan yang menyeru saudara seakidah
untuk menyambut panggilan-Mu
Itulah yang kulakukan.

Wahai orang yang mempunyai iman
Apakah jiwamu terbakar ketika mendengar jerit mereka?
Apakah dirimu merasakan pula sakitnya siksaan yang mereka alami?

Duhai lelaki yang mengaku memiliki iman
yang menangis diwaktu manusia tertidur lelap
yang dilebihkan atasnya kekuatan
yang dikhususkan baginya syari’at berperang
yang lemah lembut terhadap kaum mukmin
dan yang keras terhadap kaum kafir
Duhai lelaki yang ketika mendengar seruan-Nya, hatinya gemetar.

Bersiaplah wahai diri yang dirindukan syurga
Istanamu telah menanti
Isteri akhiratmu telah menunggu

Sambutlah panggilan-Nya
Sambutlah panggilan saudaramu
di negeri-negeri yang terjajah.
Persiapkanlah diri kalian
untuk menghadapi kaum terlaknat itu
iman, ilmu, fisik dan materi
kami menunggu berita kemenangan atau syahid yang mulia.

Adakah yang terpanggil hatinya?
Lakukanlah tindakan nyata!
Apakah kesana ada yang mencari jalan ?
Tentu ada
Tapi hanya jiwa yang kokoh imannya dan terpilih jiwanya....

Saudarimu yang merindu
berjumpa Rabb-nya di medan Jihad

[Syauqiyyah Syahidah]

Jika Para Syuhada Tidak Mati, di Manakah Arwah Mereka?


Syahid dalam medan jihad memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam. Al Qur'an dan al Sunnah telah banyak menyebutkan keutamaannya. Para sahabat dan ulama salaf telah berlomba untuk mendapatkannya.

Kesyahidan adalah nikmat

Al Qur'an menyebutkan bahwa kesyahidan merupakan anugerah nikmat dari Allah bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Anugerah ini menghantarkan pemiliknya kepada kesempurnaan hidup, keberuntungan dan kebahagiaan. Allah berfirman:

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. Al Nisaa: 69)

Maksud syuhada' pada ayat di atas, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Abdurrahman al Sa'di, adalah orang-orang yang berperang fi sabilillah untuk meninggikan kalimat Allah, lalu mereka terbunuh.

Kemudian di akhir ayat, Allah menyebutkan bahwa mereka adalah teman terbaik di surga bagi orang yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Para syuhada' tidak kehilangan nikmat dunia

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Ali Imran: 169-170)

Syaikh al Sa'di rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya bahwa dalam ayat yang mulia ini terdapat keutamaan dan kemuliaan para syuhada' serta karunia dan anugerah yang Allah berikan kepada mereka. . . .

Kemudian berkaitan dengan balasan orang yang berjihad fi sabilillah dalam memerangi musuh Islam untuk meninggikan kalimatullah lalu gugur di dalamnya, mereka tidak seperti yang kamu kira, yaitu mereka telah mati dan kehilangan kenikmatan dunia dan kesenangannya. Padahal hal inilah yang membuat banyak orang khawatir, para pengecut takut berperang dan tidak rindu syahid. Tetapi mereka mendapatkan nikmat yang lebih besar (banyak) daripada yang diperebutkan orang-orang yang berlomba untuk memperolehnya. Mereka hidup di sisi Tuhan-nya di negeri kemuliaan.

Di sana, mereka mendapatkan rizki dari berbagai kenikmatan yang tidak akan pernah diketahui sifatnya kecuali oleh orang yang Allah beri. Allah menyempurnakan anugerah nikmat kepada mereka dengan mengabungkan antara nikmat badan berupa rizki dengan nikmat hati dan ruh dalam bentuk kebahagiaan terhadap karunia yang dianugerahkan kepada mereka. Sehingga sempurnalah kenikmatan dan kebahagiaan mereka."

Berkaitan dengan hal ini Dr. Abdullah Azzam menceritakan pengalamannya, “dan sungguh kami telah melihat sebagian dari bukti-bukti yang jelas, yang menunjukkan secara nyata bahwa para syuhada’ itu hidup." Umar Hanif menceritakan kepadaku (Abdullah Azzam), dia berkata, “aku telah membuka dengan tanganku dua belas kuburan para syuhada’. Maka aku tidak mendapati seorang syahidpun yang berubah jasadnya; dan aku lihat sebagian meraka tumbuh jenggotnya dan panjang kukunya di dalam kubur.”

Dan kisah dari DR. Babrak yang syahid di Urgun dan mereka membawanya ke Phabi (kamp Muhajirian Afghan di Pesyawar). Ketika anak-anaknya menjenguk (sepulang) dari sekolah dan berdiri disamping kepalanya, dia (Dr. Babrak) menangis dan air matanya mengalir diatas wajahnya."

“Aku telah membuka dengan tanganku dua belas kuburan para syuhada’. Maka aku tidak mendapati seorang syahidpun yang berubah jasadnya; dan aku lihat sebagian meraka tumbuh jenggotnya dan panjang kukunya di dalam kubur.” Kesaksian Umar Hanif

Bau darah syuhada' seperti aroma kesturi

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya! Tidaklah seseorang terluka di jalan Allah -dan Allah lebih tahu siapa yang terluka di jalanNya- melainkan dia akan datang pada hari kiamat dengan darah yang berwarna darah (merah) sedangkan baunya seharum kesturi.” (HR. Bukhari)

Dr. Abdullah Azzam menyampaikan, “Subhanallah! Sungguh kita telah menyaksikan hal ini pada kebanyakan orang yang mati syahid. Bau darahnya seperti aroma misk (minyak kasturi). Dan sungguh di sakuku ada sepucuk surat-diatasnya ada tetesan darah Abdul wahid (Al Syahid, insya Allah)- dan telah tinggal selama 2 bulan, sedangkan baunya wangi seperti kesturi.” (Kado Istimewa Untuk Sang Mujahid, karya Syaikh Dr. Abdullah Azzam)

Dan sungguh di sakuku ada sepucuk surat-diatasnya ada tetesan darah Abdul wahid (Al Syahid, insya Allah)- dan telah tinggal selama 2 bulan, sedangkan baunya wangi seperti kesturi. (DR. Abdullah Azam)

Di manakah arwah syuhada'?

Setelah mengetahui keutamaan mati syahid dan kemuliaan para syuhada', bahwa mereka hakikatnya tidak mati dan tidak kehilangan kenikmatan. Lalu kita bertanya, "di manakah arwah mereka sebenarnya?"

Arwah para syuhada' ditempatkan di surga Firdaus yang tertinggi. Hal ini didasarkan pada hadits Rasullullah shallallahu 'alaihi wasallam yang bersabda kepada Ummu Haritsah binti Nu’man -putranya gugur di perang badar-ketika dia bertanya kepada beliau (tentang nasib putranya): “Di mana dia?” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya dia ada disurga Firdaus yang tinggi.” (HR. Al Bukhari)

Dalam Shahih Muslim, dari Masyruq rahimahullah, berkata: "Kami bertanya kepada Abdullah tentang ayat ini (QS. Ali Imran: 169)

Dia menjawab, "adapun kami telah bertanya tentang hal (kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), lalu beliau menjawab:

"Sesungguhnya ruh-ruh para syuhada’ itu ada di dalam tembolok burung hijau. Baginya ada lentera-lentera yang tergantung di 'Arsy. Mereka bebas menikmati surga sekehendak mereka, kemudian singgah pada lentera-lentera itu. Kemudian Rabb mereka memperlihatkan diri kepada mereka dengan jelas, lalu bertanya: “Apakah kalian menginginkan sesuatu?” Mereka menjawab: “Apalagi yang kami inginkan sedangkan kami bisa menikmati surga dengan sekehendak kami?” Rabb mereka bertanya seperti itu sebanyak tiga kali. Maka tatkala mereka merasa bahwasanya mereka harus minta sesuatu, mereka berkata, “Wahai Rabb kami! kami ingin ruh kami dikembalikan ke jasad-jasad kami sehingga kami dapat berperang di jalan-Mu sekali lagi. “Maka tatkala Dia melihat bahwasanya mereka tidak mempunyai keinginan lagi, mereka ditinggalkan.” (HR. Muslim)

Imam al Darimi dalam sunannya meriwayatkan dari Masyruq, dia berkata: "kami telah bertanya kepada Abdullah tentang arwah para syuhada'. Kalau bukan Abdullah, maka tak seorangpun yang menyampaikannya kepada kami. Dia (Abdullah) berkata, "arwah para syuhada' di sisi Allah pada hari kiamat berada di perut burung hijau. Dia memiliki lentera-lentera yang tergantung di 'Asry. Dia terbang di dalam surga ke mana saja yang dikehendakinya. Kemudian dia kembali ke lentera-lentera tadi, lalu Rabb mereka memuliakan mereka dengan berkata: "Apakah kalian menginginkan sesuatu? Mereka menjawab: "tidak, kecuali kami dikembalikan lagi ke dunia sehingga kami terbunuh (mati syahid di jalan Allah ) untuk kesekian kali."

Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan, ". . . ketika mereka tahu harus meminta, mereka meminta agar ruh mereka di kembalikan ke jasad-jasad mereka untuk berjihad lagi atau untuk mencurahkan jiwanya di jalan Allah Ta'ala dan merasakan nikmatnya (gugur) di jalan Allah." Walahu A'lam

Para Syuhada' meminta dikembalikan lagi ke dunia, padahal mereka sudah berada di surga, untuk merasakan nikmatnya gugur di jalan Allah sebagai syuhada'

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengetahui kenikmatan yang diperoleh para syuhada'. Karenanya beliau pernah menyampaikan keinginannya untuk gugur di jalan Allah dalam sabdanya:

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku berkeinginan meninggal di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, lalu terbunuh, lalu dihidupkan lagi, lalu terbunuh." (HR. Al Bukhari)

Sesungguhnya kematian di jalan Allah tidak seseram yang kita bayangkan. Banyak hadits dan kisah yang memaparkan bahwa para syuhada' tidak merasakan sakit berlebih ketika menemui kesyahidan, kecuali seperti tercubit.

Disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “orang yang mati syahid itu tidak merasakan (rasa sakit) pembunuhan kecuali sebagaimana seorang di antara kalian merasakan (sakitnya) cubitan.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i – hadits hasan)

Orang yang mati syahid itu tidak merasakan (rasa sakit) pembunuhan kecuali sebagaimana seorang di antara kalian merasakan (sakitnya) cubitan. (al Hadits)

Masih takutkah kita untuk berjihad fi sabilillah dan menemui kesyahidan di jalan Allah?

Oleh: Purnomo

(PurWD/voa-islam.com)

Kamis, 22 April 2010

Hadits Ghulam: Mengorbankan Diri untuk Tegaknya Tauhid


Sesunguhnya dasar utama Islam adalah dua kalimat syahadat. Yaitu Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah (Aku bersaksi tiada tuhan -yang berhak diibadahi- kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah). Seseorang sudah dianggap masuk Islam dengan mengikrarkan dua kalimat ini.

Dua kalimat syahadat ini tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Syahadat La Ilaha Illallah tidak sempurna, bahkan tidak syah, tanpa menyatakan syahadat Muhammad Rasulullah.

Di antara makna Syahadat Muhammad Rasulullah adalah meyakini dan mengakui dengan benar bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya kepada manusia secara keseluruhan. Dan keyakinan dan pengakuan ini menuntut empat perkara:

Membenarkan kabar beritanya.
Mentaati apa yang diperintahnya.
Menjauhi apa yang dilarang dan yang dicelanya.
Beribadah kepada Allah dengan apa yang disyariatkannya.
Pembenaran kabar berita dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencakup pemberitaan tentang perkara-perkara yang telah berlalu, yang sedang terjadi di masa beliau shallallahu 'alaihi wasallam dan yang akan terjadi. di masa depan Semua itu bukan berasal dari diri beliau sendiri, tapi karena pemberitaan dari Allah Ta'ala.

Firman Allah Ta'ala:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. an-Najm, 3-4)

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

"Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa." (QS. Ali Imran: 44)

تِلْكَ مِنْ أَنْبَآءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ

"Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Huud: 49)

وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

"Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. al-A'raf: 188)

Hadits Ghulam

Di antara kabar berita tentang perkara-perkara yang telah berlalu adalah hadits Rasululah shallallahu 'alaihi wasallam tentang kisah ghulam (seorang remaja) yang mengorbankan dirinya untuk memperjuangkan dienullah, menegakkan tauhid, dan meninggikan kalimat-Nya.

* * * *

Diriwayatkan oleh sahabat Shuhaib rahimahullah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dahulu kala, pada umat sebelum kalian, ada seorang raja yang mempunyai seorang ahli sihir. Ketika ahli sihir itu sudah lanjut usia, ia berkata kepada sang raja:

إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ فَابْعَثْ إِلَيَّ غُلامًا أُعَلِّمُهُ السِّحْرَ

"Sungguh aku telah tua, oleh karena itu kirimkan seorang pemuda kepadaku untuk kuajari ilmu sihir."

Maka sang rajapun mengirimkan seorang ghulam kepadanya yang akan ia ajari ilmu sihir.

Dan ketika di jalan yang dilaluinya menuju tukang sihir, ia bertemu dengan seorang ahli ibadah (rahib). Lalu ghulam itu duduk di dekatnya dan mendengarkan ucapannya yang membuatnya kagum.

Setiap kali mendatangi tukang sihir, ia selalu melewati si rahib itu dan singgah di tempatnya. Ketika ia sampai kepada tukang sihir, tukang sihir itu memukulnya. Maka peristiwa itu diberitahukan kepada sang rahib, lalu rahib itu berkata:

إِذَا خَشِيْتَ السَّاحِرَ فَقُلْ حَبَسَنِي أَهْلِي ، وَإِذَا خَشِيْتََ أَهْلََكَ فَقُلْ حَبَسَنِي السَّاحِرَ

"Jika kamu takut pada tukang sihir, maka katakan: keluargaku menahanku. Dan jika kamu takut pada keluargamu, maka katakan: tukang sihir telah menahanku."

Ketika dalam rutinitasnya itu, di tengah perjalanannya, tiba-tiba ia bertemu dengan seekor binatang yang besar yang menghalangi jalan orang. Maka ia berkata:

اَلْيَوْمَ أَعْلَمُ السَّاحِرَ أَفْضَلُ أَمِ الرَّاهِبُ أَفْضَلُ

"Hari ini, aku akan tahu, apakah tukang sihir yang lebih utama (benar) ataukah sang rahib?."

Kemudian ia mengambil sebuah batu seraya berkata:

اَللّهُمَّ إِنْ كَانَ أَمْرُ الرَّاهِبِ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فَاقْتُلْ هَذِهِ الدَّابَةَ حَتَّى يَمْضِي النَّاسُ

"Ya Allah, jika ajaran sang rahib lebih engkau sukai daripada ajaran tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini agar orang-orang dapat melanjutkan perjalanan mereka."

Kemudian ia melemparkan batu itu sehingga dapat membunuh binatang tersebut dan orang-orang pun dapat melanjutkan perjalanan mereka.

Selanjutnya, ghulam tadi mendatangi sang rahib dan menceritakan peristiwa tersebut. Maka sang rahib berkata padanya: "Wahai anakku sekarang engkau lebih baik dariku. Sebab urusanmu telah sampai pada tarap sang kusaksikan. Dan sungguh engkau kelak akan diuji. Jika engkau diuji, janganlah engkau tunjukkan keberadaanku pada mereka."

Ghulam itu mulai mampu mengobati penyakit buta, kusta dan mampu menyembuhkan segala macam penyakit.

Pada suatu hari, orang kepercayaan sang raja yang buta mendengar berita tersebut. Lalu ia mendatangi pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak. Dia berkata: "Semua yang ada di sini akan menjadi milikmu jika engkau berhasil menyembuhkan penyakitku."

Pemuda itu menjawab:

إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا ، إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ تَعَالَى ، فَإِنْ آمَنْتَ بِاللهِ تَعَالَى دَعَوْتُ اللهَ فَشَفَاكَ

"Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorangpun. Sebenarnya yang mampu menyembuhkan hanya Allah Ta'ala. Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya agar menyembuhkanmu." Lalu ia-pun beriman kepada Allah Ta'ala dan Allah-pun menyembuh-kannya.

Selanjutnya orang itu menghadap sang raja dan duduk sebagaimana biasanya. Lalu sang raja berkata padanya; "Siapa yang mengembalikan (menyembuhkan) penglihatanmu.?"

Dia menjawab: "Rabb-ku."

Apakah engkau mempunyai Rabb selain diriku?" tanya sang raja.

"Rabb-ku dan Rabbb-mu adalah Allah," jawabnya.

Maka sang raja langsung menghukumnya dan terus menyiksanya sehingga orang itu menunjuk sang ghulam tadi.

Kemudian dipanggilah si ghulam, lalu sang raja berkata padanya: "Wahai anakku, sihirmu luar biasa hebatnya, dapat menyembuhkan sakit buta dan kusta, kamu juga telah melakukan ini dan itu."

Maka dia berkata:

إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا ، إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ تَعَالَى

"Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorangpun. Sebenarnya yang mampu menyembuhkan hanya Allah Ta'ala."

"Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorangpun. Sebenarnya yang mampu menyembuhkan hanya Allah Ta'ala." jawab Ghulam

Maka pemuda tadi dihukum dan terus disiksa sehingga ia menunjuk keberadaan sang rahib."

Kemudian ditangkaplah sang rahib, lalu sang raja berkata padanya: "Tinggalkan agamamu ini." Namun ia menolak.

Lalu didatangkanlah gergaji, dan diletakkan di atas kepalanya, dan membelahnya sehingga tersungkurlah tubuhnya menjadi dua bagian.

Lalu dibawalah orang kepercaaan raja tadi, dan dikatakan kepadanya; "Tinggalkan agamamu ini." Namun ia menolak.

Lalu diletakkan gergaji di atas kepalanya, dan membelahnya sehingga kedua bagian tubuhnya tersungkur.

Lalu dibawalah ghulam tadi, dan dikatakan padanya; "Tinggalkanlah agamamu ini." Namun ia menolak.

Lalu ia menyerahkan pemuda tadi kepada pasukannya supaya di bawa ke atas gunung dan jika sudah sampai dipuncaknya ia ditawari untuk kembali kepada agamanya semula, jika tidak mau, ia dilemparkan ke bawah."

Kemudian mereka segera membawa si ghulam naik ke atas gunung. Ketika sudah sampai di atas si ghulam berdoa:

"Ya Allah, lindungi diriku dari (kejahatan) mereka sesuai dengan kehendak-Mu."

Maka gunung itu-pun bergoncang sehingga mereka berjatuhan.

Kemudian ghulam dengan berjalan kaki menemui sang raja, lantas sang raja menanyainya: "Apa yang dilakukan pasukan yang membawamu?"

Dia menjawab: "Allah Ta'ala telah menghindarkan diriku dari kejahatan mereka."

Kemudian ghulam diserahkan kepada pasukannya yang lain, ia berpesan agar membawanya ke tengah laut dengan sebuah perahu. Jika dia mau kembali kepada ajarannya semula, maka ia selamat, namun jika tidak mau, dia dilemparkan ke tengah laut.

Lalu mereka berangkat dengan membawanya. Ketika sampai di tengah laut ghulam tadi berdoa:

اَللّهُمَّ اكْفِنِيْهِمْ بِمَا شِئْتَ

"Ya Allah, lindungi diriku dari (kejahatan) mereka sesuai dengan kehendak-Mu."

Maka kapal itupun terbalik dan tenggelam.

Setelah itu ghulam datang kepada sang raja dengan berjalan kaki. Dan raja-pun berkata padanya: "Apa yang dilakukan pasukan yang bersamamu?"

Dia menjawab: "Allah Yang Maha Tinggi telah menyelamatkanku dari kejahatan mereka." Lebih lanjut, ghulam berkata kepada sang raja: "Sungguh engkau tidak akan dapat membunuhku hingga kamu mau mengerjakan yang kuperintahkan."

Raja berkata: "Apa itu?."

Ghulam menjawab: "Kamu harus mengumpulkan orang-orang di satu tanah lapang (lapangan), lalu kamu menyalibku di sebuah batang pohon, lalu ambillah anak panah dari tempat anak panahku, lalu letakkan anak panah pada busurnya dan kemudian ucapkan:

بِسْمِ اللهِ رَبِّ الْغُلَامِ

"Dengan menyebut nama Allah, Rabb si ghulam." Lalu lepaskanlah anak panah itu ke arahku. Sungguh jika engkau lakukan hal itu, kamu akan dapat membunuhku."

Maka sang raja-pun mengumpulkan orang-orang di suatu tanah lapang. Lalu ia menyalibnya di atas sebatang pohon. Lalu ia mengambil anak panah dari tempat anak panah ghulam. Selanjutnya ia meletakkan anak panah pada busurnya. Kemudian mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ رَبِّ الْغُلَامِ

"Dengan menyebut nama Allah, Rabb si ghulam."

Dan kemudian melepaskan anak panah itu dan mengenai pelipisnya. Lalu si ghulam meletakkan tangannya di pelipisnya, lalu ia meninggal dunia."

Saat itu orang-orang berkata: "Aamanna bi Rabbil ghulam." Kemudian ada orang datang kepada raja dan berkata kepadanya: "Tahukan engkau apa yang engkau khawatirkan? Demi Allah kekhawatiranmu telah menjadi kenyataan, orang-orang telah beriman."

Kemudian raja itu memerintahkan untuk membuat parit berapi besar pada setiap persimpangan jalan. Dan raja itu berkata:

مَنْ لَمْ يَرْجِعْ عَنْ دِيْنِهِ فَأَقْحِمُوهُ فِيْهَا

"Barangsiapa yang tidak kembali kepada agamanya semula, maka lemparkan ke dalam parit itu!." Atau dikatakan ceburkanlah dirimu.

Maka orang-orangpun melakukan hal tersebut sehingga datanglah seorang wanita bersama bayinya. Lalu wanita itu berhenti dan menghindar agar jangan terperosok ke dalamnya. Maka bayi itu berkata kepadanya: "Ya Ummah isbiri fa innaki 'alal haq" (wahai ibu, bersabarlah, sungguh negkau berada di atas kesabaran." (HR. Muslim)


Pelajaran dari hadits di atas

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Tapi di sini kami akan menyebutkan sebagaian kecilnya saja.

Pertama, adanya ujian keimanan. Hal ini seperti yang disampaikan Rahib kepada ghulam setelah dia menceritakan keajaiban yang dialaminya, "Wahai anakku sekarang engkau lebih baik dariku. Sebab urusanmu telah sampai pada tarap sang kusaksikan. Dan sungguh engkau kelak akan diuji. Jika engkau diuji, janganlah engkau tunjukkan keberadaanku pada mereka."

Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta'ala,

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. al Ankabuut: 2-3)

Kedua, Besarnya permusuhan orang kafir terhadap kaum mukminin dan dahsatnya penyiksaan mereka yang tidak berperikemanusiaan.

Kisah di atas merupakan kisah ashabul uhdud yang Allah cantumkan di dalam surat al-Buruj.

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (4) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (5) إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (6) وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (7) وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

"Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, Ketika mereka duduk di sekitarnya, Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan Karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji." (QS. al-Buruj: 4-8)

Allah, Dzat Yang menciptakan seluruh makhluk, memberi rizki mereka, dan Yang menetapkan takdir. Dzat yang Maha mengetahui, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, yang dzahir maupun yang batin, yang besar maupun yang kecil, yang jauh maupun yang dekat telah mengabarkan kepada kita bahwa orang-orang kafir akan senantiasa memusuhi kita sehingga kita berpindah mengikuti ajaran agama mereka.

Allah berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدَى وَلِئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيْرٍ

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al-Baqarah: 120)

وَدَّ كَثِيْرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيْمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

"Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran." (QS. al-Baqarah: 109)

"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." (QS. al-Baqarah: 217)

Orang yang benar kekafirannya pasti-lah mereka memusuhi kaum muslimin. Dan apabila ada di antara mereka yang tidak memusuhi kaum muslimin berarti kekafiran mereka tidak benar-benar. Sebagaimana kaum muslimin, apabila Iman dan Islam mereka benar, pasti mereka menganggap orang-orang kafir sebagai musuhnya dan sebagai ancaman. Tapi dalam memusuhinya, mereka memiliki aturan-aturan syar'i yang harus dipatuhi. Dan apabila ada kaum muslimin yang menganggap orang-orang kafir sebagai teman, kawan bahkan saudara tanpa ada keyakinan sebagai musuh lalu diikuti dengan berkasih sayang dan saling berwali maka Iman dan Islam mereka perlu dipertanyakan.

Allah Ta'ala berfirman:

"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya, dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung." (QS. al-Mujadilah: 22)

Salah satu cara menanggulangi permusuhan mereka adalah dengan senantiasa menjaga keimanan dan mempersiapkan kekuatan. Supaya mereka merasa gentar dan tidak bisa menuruti kedengkian mereka.

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَاسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّهُمْ وَءَاخَرِيْنَ لَا تَعْلَمُوْنَهُمُ اللهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوْا فِي سَبِيْلِ اللهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (QS. al-Anfal: 60)

Ketiga, Keberanian membela dan mengatakan kebenaran.

Keberanian ini ditunjukkan oleh ghulam ketika menyatakan di hadapan raja dzalim yang mengaku sebagai tuhan, bahwa Tuhannya adalah Allah, bukan raja. Dia juga menyandarkan kesembuhan kepada Allah melalui ucapannya, "Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorangpun. Sebenarnya yang mampu menyembuhkan hanya Allah Ta'ala."

Tentunya dia paham resiko yang akan dihadapi ketika menyatakan hal tersebut. Namun, dengan taufiq dari Allah dia tetap menyatakan kebenaran di hadapan raja, tanpa harus menyembunyikan atau berkilah di hadapannya. Rasa takutnya kepada Allah jauh lebih besar daripada takutnya kepada raja.

Ini adalah bentuk jihad fi sabilillah, bahkan termasuk jihad yang paling utama. Karena subtansi dari jihad adalah upaya dan kesungguhan untuk meninggikan kalimatullah di muka bumi. Berkaitan dengan ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيْرٍ جَائِرٍ

"Jihad yang paling utama adalah berkata yang adil (benar) di hadapan pemimpin yang jahat." (HR. at-Tirmidzi dan ibnu Majah)


Dan berjihad dengan berkata yang benar dan jujur walau apapun akibatnya adalah salah satu dari tujuh pesan Rasulullah kepada Abu Dzar radliyallah 'anhu,

"Dan beliau menyuruhku untuk mengatakan al-hak (kebenaran) walaupun pahit rasanya * dan supaya aku tidak takut celaan orang yang mencela." (HR. Imam Ahmad)

Dalam beberapa hadits lain, Rasulullah mencela sikap diam dari mengatakan kebenaran karena takut kepada manusia ketika kondisi menuntutnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ رَهْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُوْلَ بِحَقٍّ إِذَا رَآهُ أَوْ شَهِدَهُ. فَإِنَّهُ لَا يُقَرِّبُ مِنْ أَجَلٍ، وَلَا يُبَاعِدُ مِنْ رِزْقٍ أَنْ يَقُوْلَ بِحَقٍّ أَوْ أَنْ يُُّذَكِّرَ بِعَظِيْمٍ

"Ingatlah! janganlah ketakutan pada manusia menghalangi salah seorang kalian mengatakan kebenaran jika ia melihat dan menyaksikannya. Karena mengatakan kebenaran atau memperingatkan perkara yang besar tidak mendekatkan ajal dan tidak menjauhkan rizk." (HR. Ahmad)

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang lain, "Janganlah salah seorang kalian menghinakan dirinya sendiri, yaitu ketika ia melihat salah satu perkara Allah yang ia harus mengatakannya tapi ia tidak mengatakannya. Kelak pada hari kiamat ia akan ditanya; "apa yang menghalangimu untuk mengatakan ini dan itu?" ia menjawab: "takut pada manusia" maka Allah berfirman: "kepadakulah engkau lebih layak takut"." (HR. Ahmad)

Oleh: Purnomo

(PurWD/voa-islam.com)

Senin, 12 April 2010

Penembakan Densus di Gang Asem: Siapa yang Dusta, Polisi atau Saksi Warga?


JAKARTA (voa-islam.com) – Dua orang yang diduga teroris tewas diterjang peluru Densus 88 Antiteror di Gang Asem, Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangerang, Selasa (9/3/2010). Peristiwa penembakan siang bolong di Gang Asem itu menjadi misteri dan polemik, karena laporan polisi bertolak belakang dengan kesaksian warga yang menyaksikan detik-detik penembakan dengan mata kepalanya.

Manurut laporan polisi, dua orang itu terpaksa ditembak karena melawan dengan cara menembak petugas dari atas motor Suzuki Thunder biru yang mereka naiki. Padahal, menurut saksi mata, dua orang korban ditembak kepalanya saat terjatuh, tanpa melakukan penembakan apapun.

Beberapa saat usai peristiwa penembakan di Gang Asem tersebut, Mabes Polri mengeluarkan siaran pers bahwa kedua korban ditembak polisi karena melakukan perlawanan dengan menembak petugas.

"Mereka melakukan perlawanan dengan menembak petugas sambil mengendarai motor Thunder," kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Edward Aritonang di Markas Besar Polisi, Jakarta Selatan, Selasa 9 Maret 2010.

...Mereka melakukan perlawanan dengan menembak petugas sambil mengendarai motor Thunder," kata Kadiv Humas Polri di Mabes Polri...

Edward juga membantah ada orang diduga teroris yang berjenis kelamin perempuan. Ketiganya laki-laki.

Siaran pers dari kantor Mabes Polri itu bertolak belakang dengan keterangan warga yang menjadi saksi mata peristiwa Gang Asem itu.

Menurut salah satu saksi mata, korban penembakan di Gang Asem itu ada dua orang, yaitu pembonceng motor Suzuki Thunder biru dan seorang yang dibonceng, memakai cadar hitam.

Menurut Sipit (55), pemilik warung rokok dan gorengan –tempat kedua korban tewas– peristiwa terjadi pada pukul 13.30.

"Saat itu saya sedang jaga warung, memarut kelapa di teras warung. Tiba-tiba ada motor kenceng lalu balik, yang dibonceng loncat ke depan warung lalu nyungsruk (terjerembab, ed.) ke kolong meja," kata Sipit ditemui di warungnya di Gang Asem, Rabu 10 Maret 2010.

Orang yang dibonceng memakai cadar, Sipit mengaku sempat mengira dia adalah perempuan.

Tak beberapa lama, tambah dia, ada polisi menghampiri. "Kayak ada perlawanan lalu ditembak di tempat," tambah dia.

...Saya dengar ada empat kali tembakan. Pelaku nggak bawa tembakan (senjata api, ed.), yang menembak satu polisi pakaiannya biasa, ujar Sipit...

"Saya dengar ada empat kali tembakan. Pelaku nggak bawa tembakan (senjata api, ed.), yang menembak satu polisi pakaiannya biasa," tambah Sipit.

Menurut dia, tembakan dilakukan dalam jarak dekat, setelah pelaku dan polisi sempat bergulat. "Tembakan di dadanya," tambah Sipit.

Sipit mengaku syok melihat hal tersebut. Polisi menyuruhnya masuk ke warung. "Masuk ke dalam kalau di luar bisa kena," kata Sipit, menirukan ucapan polisi.

Perempuan paro baya itu mengaku saat itu dia tidak tahu bahwa orang berpakaian preman yang menembak adalah polisi.

Kisah versi Sipit juga dibenarkan oleh Hamid (68), warga sekitar yang juga menyaksikan detik-detik penembakan dengan kedua bola matanya.

"Ketika kejadian, saya lagi duduk-duduk," kata Hamid di lokasi penembakan di Gang Asem.

Saat itu sekitar pukul 13.30 Waktu Indonesia Barat. Tiba-tiba ada motor dari dalam Gang Asem melaju kencang ke arah Jalan Setiabudi. Yang membawa motor seorang pria berbaju hitam dan memakai ransel. Yang dibonceng menggunakan cadar.

Namun, saat motor hendak menuju mulut gang, polisi telah menutup jalan. Panik, motor langsung balik arah. Satu penumpang terpental. Sementara motor dibawa lari ke arah gang. Ternyata ada polisi tidur, motor pun terjatuh.

...kedua kaki berada di tepi sebuah selokan. Dia menggambarkan aparat meletakkan pistol di bagian kening...

Hamid juga menirukan posisi jatuhnya –tubuh doyong dan kedua kaki berada di tepi sebuah selokan. Dia menggambarkan aparat meletakkan pistol di bagian kening.

"Pengendara langsung disergap satu polisi pakaian preman. Pengendara ini berusaha berontak, terpaksa ditembak kepalanya," kata Hamid.

Setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Maka jangan ada dusta di antara kita. [taz/viva]

Membaca Isyarat Wangi Jasad Dulmatin


EMPAT hari sudah, Dulmatin menghembuskan nafas pamungkas untuk menemui Rabbnya, sejak ditembak tim Densus 88 di Pamulang, Tangerang Banten pada Selasa 9 Maret 2010, bersama dua orang rekannya. Para pelayat dan pengantar jenazah Dulmatin mencium aroma wangi memancar dari jasadnya. Pertanda apakah ini?

Kamis malam, pukul 20.50 WIB, jenazah Dulmatin diberangkatkan menuju Pemalang, dari Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, dibawa mobil ambulans yang dikawal dua mobil polisi.

Jenazah Dulmatin tiba di kediaman keluarga di Jalan Garuda Pasar Patarukan, Pemalang, Jawa Tengah sebelum subuh, pukul 03:00 WIB.

Kepulangan jasad Dulmatin yang bernama asli Amar Usman bin Usman bin Sovie ini disambut dengan spanduk heroic bertuliskan “Ammar bin Usman Sovie bukan teroris tapi mujahid.”

Nampak dari mobil ambulans berplat B 1017 TIX dikeluarkan peti jenazah bertuliskan nama Joko Pitono alias Amar Usman alias Dulmatin yang tertempel di bagan depan.

Begitu jenazah tiba di rumah orang tua Dulmatin yang berada persis didepan pasar Petarukan Pemalang, peti langsung diusung oleh para pelayat dan dimasukkan ke dalam rumah sekaligus toko yang bercat hijau.

Setelah peti jenazah dibuka dan keluarga menyaksikan kondisi jenazah, kemudian keluarga mempersilakan para pelayat yang mayoritas laki-laki untuk melihat keadaan jenazah.

Para pelayat yang datang kebanyakan berasal dari kota Solo, Pekalongan, Semarang, Kudus dan beberapa kota terdekat lainnya. Bahkan ba'da subuh tadi aliran mobil pelayat mulai tambah berdatangan.

Prosesi pemakaman ini diawali dengan upacara pelepasan oleh seluruh keluarga besar Dulmatin. Iringan takbir pun lantang disuarakan sekelompok orang bersama keluarga.

Sebelum dibawa ke pemakaman keluarga, jasad Dulmatin dishalatkan terlebih dahulu di Masjid Maitul Mutaqin yang tak jauh dari kediaman Dulmatin.

Keluarga besar Dulmatin tampak menghadiri pemakaman tersebut dengan hikmat, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Lenong, Kelurahan Lenong. Pemakaman ini berjarak sekitar 5 kilometer dari kediaman keluarga.
Selain keluarga, masyarakat pun turut serta menghantarkan tersangka yang diduga menjadi otak bom Bali I tahun 2002 itu.

Pasca pemakaman, berita adanya aroma wangi dari jasad Dulmatin pun beredar luas. Sebuah sms yang berisi kesaksian tentang kondisi yang bunyinya sbb:

“Bismillah… saya istri asy-syahid Dulmatin menyaksikan bahwa suami saya insya Allah SYAHID.. Saya mencium wangi dari jasadnya dan darahnya.. tersenyum, bersih wajahnya, ketenangan terpancar.. tampak lafadz Alloh di langit.. Pekikan takbir naik ke atas.. Subhanalloh, Allohu Akbar3x.”

Ba’asyir: Itu Pertanda Dulmatin bukan Teroris tapi Mujahid

Meski tidak mengenal betul sosok Dulmatin, Pimpinan Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menyakini bahwa Dulmatin bukanlah seorang teroris yang selama ini diburu polisi.

...mereka pejuang Islam, bukan teroris, yang teroris adalah Amerika. Itu yang dibalik, maling teriak maling, tapi Indonesia taklid, kata Ba’asyir...

Menurutnya, Dulmatin adalah seorang mujahid, karena membela orang Islam yang tertindas di luar negeri. Kendati dinilai teroris, Ba'asyir mempersilakan masyarakat tidak setuju dengan jihad cara Dulmatin.

"Silakan masyarakat menilai, yang saya tahu mereka pejuang Islam, bukan teroris, yang teroris adalah Amerika. Itu yang dibalik, maling teriak maling, tapi Indonesia taklid," kata Ba’asyir, Jumat (12/3/2010).

Selain itu, menurut Ba'asyir, berbeda jasad orang yang disebut teroris dengan jasad orang yang bukan teroris. Hal itu, dibuktikan dari jenazah Dulmatin dari kawan-kawan yang melihat langsung jenazahnya sebelum dimakamkan.

"Saya dengar dari kawan-kawan di sana yang melihat jenazah Dulmatin. Baunya wangi dan darah masih mengalir. Kenapa demikian, itu membuktikan dia bukan teroris. Sebab kalau teroris, lima menit setelah mati pasti busuk," kata Ba'asyir. Wallahu a’lamu bis-shawab. [taz/voa-islam.com]

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (Qs. Ali Imran 169).

Selasa, 06 April 2010

Mereka memang Sengaja Dihabisi?


Mereka dibunuhi dengan brutal hanya karena mereka “diduga” teroris,Upaya penggerebekan terhadap tersangka terorisme memasuki babak baru,Langsung dihabisi di tempat tanpa ada upaya menangkap hidup-hidup,tanda pengadilan tanpa pembelaan. Spekulasi ini tampaknya dapat bukti penguat dari buku kombes Dr Petrus Reinhard Golose berjudul "Deradikalisasi Terorisme: Humanis, Soul Approch dan Menyentuh Akar Rumput." Golose adalah penyidik polisi perkara terorisme yang juga pengajar luar biasa dari Kajian Ilmu Kepolisian Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
Dalam buku tersebut dipaparkan bahwa pidana penjara seringkali tidak efektif dalam upaya menanggulangi kasus terorisme. Para terpidana terorisme masih bisa memberikan pengaruh kepada napi lain, bahkan para sipir penjara.Vonis hukuman mati yang dijatuhkan kepada para tersangka terorisme, seperti Amrozi, Imam Samudera, dan Muklas, hanya memberikan satu manfaat yaitu pemuasan rasa dendam masyarakat. Pelaksanaan hukuman mati tidak bisa membuat tujuan dari pemidanaan tercapai.

karena ketakutan akhirnya polisi melakukan cara main hakim sendiri, extra-judicial killing atau pembunuhan yang melanggar hukum dalam menangani kasus terorisme akhirnya dilakukan. Upaya penyergapan yang dilakukan bukan untuk menangkap, namun untuk membunuh.

Semoga Allah menerima orang-orang yang gugur dalam berjihad di jalannya sebagai syuhada














http://eradajjal.blogspot.com

Senin, 05 April 2010

Foto-Foto Jenazah Air dan Eko Peyang





Perjalanan Air Setiawan dan Eko Joko Menuju Syahid.

Perjalanan hidup kedua aktifis Islam kota Solo bernama Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono akhirnya berakhir setelah kedua kepala mereka dilubangi dengan peluru-peluru yang dimuntahkan dari senapan tim Densus88. Cerita bermula tanggal 7 Agustus 2009, kedua pria tersebut pada pagi hari di hari Jum'at tersebut masih ikut bekerja bakti di kampung Brengosan dan mengikuti sholat Jum'at di masjid setempat. Setelah itu keduanya dikabarkan berpamitan akan pergi keluar kota untuk mengantarkan barang.

Sora harinya, di desa Beji, Kedu, kecamatan Temanggung terjadi penggerebekan tim Densus88 di sebuah rumah di desa tersebut. Pengepungan rumah tersebut dimulai pukul 17:00 WIB, dari kabar yang terus dipantau dari televisi, diberitakan jika didalam rumah tersebut terdapat buronan tim Densus nomor wahid yaitu Noordin M Top. Haripun makin gelap dan penyerbuan dan pengepungan dirumah tersebut belum juga selesai.

Pada Sabtu diniharinya, kabar mengejutkan tiba-tiba disampaikan kapolri Bambang Hendarso Danuri. Ia mengatakan, di Bekasi tepatnya di Jatiasih juga dilakukan penggerebekan sebuah rumah yang beralamat di Puri Nusapala Blok D Jatiasih Bekasi. Dalam penggerebekan tersebut dikabarkan dua pria tewas, diidentifikasi sebagai Air Setiwan dan Eko Joko Sarjono warga Solo / Surakarta. Mereka tewas karena dikabarkan akan melawan polisi saat hendak ditangkap dengan melemparkan bom tangan.

Penggerebekan di Temanggung pun akhirnya dinyatakan selesai esok harinya pada Sabtu, 8 Agustus 2009 sekitar pukul 10:00 WIB. Dan hanya ditemukan satu pria tewas dalam rumah tersebut yang awalnya dinyatakan sebagai Noordin M Top.

Haripun berlalu hingga Rabu pagi tanggal 12 Agustus 2009. Pada hari tersebut polisi akan menggelar jumpa pers di RS Polri Kramat Jati untuk mengungkap semua hasil operasi tim Densus88 mulai dari yang di Temanggung hingga yang di Bekasi. Pukul 09:30 WIB jumpa pers dimulai, acara pun sampai pada penjelasan siapa-siapa mayat yang saat itu sedang berada di ruang otopsi RS PolriKramat Jati tersebut. Foto pertama yang diperlihatkan polri adalah foto kepala Dani Dwi Permana pelaku bom hotel JW Marriott, foto kedua adalah foto kepala pria yang dinyatakan sebagai Nana Permana, pelaku bom hotel Ritz Calrton. Foto ketiga adalah foto Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono, dalam foto hitam putih tersebut kedua foto kepala pria asal Solo itu terlihat biasa saja. Pun ketika pada foto terakhir, yaitu foto yang ditunggu-tunggu mengenai siapa MR X di Temanggung tersebut. Akhirnya diperlihatkan foro kepala pria yang diidentifikasi polri sebagai Ibrohim dan bukan Noordin M Top. Foto Ibrohim juga terlihat biasa dengan mata memandang ke depan dan wajah bersih.

Siang itu, Muslimdaily yang ikut Pada jumpa pers di RS Polri Kramat Jati langsung mengkontak keluarga Air Setiawan dan Eko Joko di Solo jika kedua pria yang dinyatakan tewas di Bekasi tersebut sama dengan ciri-ciri yang diberikan keluarga kepada pihak Densus88, dan keluarga pun langsung berangkat menuju Jakarta kembali.

Sementara itu persiapan pemakaman jenazah mulai dilakukan di kampung Brengosan sambil menunggu kedatangan jenazah. Spanduk bertuliskan Selamat Datang Asy-Syahid Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono pun mulai dipasang di sudut-sudut kampung tersebut. Malam harinya saat masih menunggu kedatangan jenazah, terjadi keributan antara polisi yang berjaga di kampung tersebut dan para pemuda Islam yang pada datang bertakziyah. Sebabnya adalah polisi tidak mau spanduk sambutan jenazah tersebut dipasang, polisi berusaha menurunkan namun dihalangi para pemuda hingga terjadi bentrok, beberapa polisi dihajar para pemuda.

Para pemuda tersebut juga melarang liputan wartawan dari sebuah televisi swasta di negeri ini yang mereka anggap beritanya tidak berimbang dan sangat menyudutkan para jenazah. Tulisan larangan masuk kepada stasiun televisi tersebut banyak ditempel di beberapa akses masuk ke kampung brengosan tersebut.

Esoknya, hari Kamis tanggal 13 Agustus 2009 mulai pagi hari, ribuan pemuda Islam dari kota Solo dan beberapa kota tetangga mulai memadati kampung Brengosan tersebut untuk datang bertakziah. Makin siang makin banyak pula yang datang.

Redaksi MuslimDaily yang langsung datang kerumah jenazah melihat sendiri kondisi kedua mayat tersebut. Dan ternyata sangat berbeda dengan gambar yang diperlihatkan polri pada hari sebelumnya saat di RS Polri Kramat Jati. Dalam foto di RS Polri tersebut tampak tidak ada yang aneh dengan wajah kedua jenazah. Namun setelah kafan bagian wajah dibuka, terdapat banyak sekali luka diwajah.

Pada wajah jenazah Air Setiawan, bagian mata sebelah kiri terdapat luka lebam. Pada bagian jidat atas terdapat luka bekas tembak yang menembus hingga kepala bagian belakang bawah, luka tembak juga terdapat didekat telinga kiri hingga kebelakang. Luka tembak di jidat sudah dijahit, namun bagian belakang kepala hancur dan jika disentuh terasa lembek, sehingga bagian belakang kepala pun dibungkus dengan plastik kresek. Bagian tubuh bawah tidak sempat diperiksa.

Hal yang sama juga terjadi pada Jenazah Eko Joko Sarjono, malah luka bekas pukulan benda tumpul semakin jelas terlihat. Hidung jerlihat robek(kemungkinan juga bekas luka tembak jarak dekat) namun sudah dijahit, bagian belakang kepala juga hancur.

Kondisi kedua jenazah yang sudah meninggal selama satu pekan tesebut masih terlihat segar, bahkan setelah enam hari darah masih terus mengalir dari luka-luka mereka, terlebih pada bagian telinga, darah cair masih mengalir, Subhanallah.

Akhirnya pukul 09:30 WIB hari Kamis 13 Agustus 2009, kedua jenazah dibawa ke Masjid Al Muhajirin di kampung Brengosan untuk disholatkan. Sholat gelombang pertama di pimpin oleh ustad Abu Bakar Ba'asyir dari Jamaah Anshorut Tauhid dan kemudian sholat dilanjutkan berkali-kali oleh para pentakziah yang jumlahnya ribuan tersebut.

Setelah itu jenazah diantar ke komplek "Pekuburan Khusus Orang Sholat" didaerah Kalioso Sragen. Ribuan pemuda Islam Solo mengantar jenazah hingga ke liang lahat, pekikan "Allahu Akbar" dan Isy Karima au Mut Syahida" tak henti-henti mereka teriakkan disepanjang perjalanan ke kuburan tersebut.

Akhirnya jenazah keduanya dikuburkan berdampingan di kuburan khusus Muslim tersebut. Prosesi pun ditutup dengan doa kembali oleh ustad Abu Bakar Ba'asyir yeng mendoakan semoga keduanya mendapat pahala seorang Mujahid, dan juga sebelumnya beliau menyatakan polisi yang menembak keduanya akan mempertanggung jawabkan kelak.

Kota Solo ini memang lain, di saat daerah lain menolak para jenazah "teroris" tersebut, di kota ini ribuan pemuda malah menyambut dan mengantar jenazah dengan antusias hingga ke liang lahat.

Namun kota ini juga kembali menjadi sasaran operasi tim Densus88, beberapa hari terakhir kembali muncul daftar DPO Densus88 untuk kota Solo, beberapa inisialnya adalah UR dan SS.

Namun, apakah sebenarnya yang terjadi pada Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono??? Wallahua'lam, hanya Allah Subhanahu wa ta'ala dan Densus88 yang mengetahuinya. Karena banyak pihak ragu keduanya tewas di Bekasi, namun dihabisi di perjalanan.

Tanda-Tanda Syahid Lagi-Lagi Muncul Pada Jenazah Air dan Eko Peyang :

1. Salah satu pelayat menyaksikan ketika keranda jenazah masuk, sontak tercium bau wangi yang menyebar ke seluruh ruangan. Kejadian ini sempat membuat keheranan para pelayat, karena didalam ruangan yang sempit tersebut udara sangat pengap dan pengunjung berjubel dalam satu ruangan.
2. Terlihat jelas bulir-bulir keringat menempel di tubuh keduanya. Keluarnya keringat ini sama seperti seseorang yang masih hidup dan dalam kondisi kegerahan, ingat !!! mereka berdua sudah enam hari meninggal.
3. Aliran darah juga terlihat keluar dari telinga dan kepala jenazah seperti yang terjadi dengan seseorang yang masih hidup ketika terluka.

Sumber Dari muslimdaily.net

Senin, 29 Maret 2010

Usatad yang Ilmunya dari kebanyakan umat muslim asja mengakui kesyahidan mereka




Masih mau ngeyel mereka g Jihad n g Syahid????
besok kalo ada Mujahid yang dibunuh pemerintah dan dianggap teroris lagi ikut aja k pemakamannya
kalian akan lihat TANDA TANDA kebesaran ALLAH

Wawancara Imam Samudra



Mujahid emank harus begini ni
intelek n smart

Hidup mulia atau Mati syahid - Nasyid IMAM SAMUDERA




Nasyid Terakhir dari IMAM SAMUDERA... difahamkan sebelum beliau di tangkap... atau pun sebelum beliau di bunuh...
SEMOGA ALLAH MENEMPATKAN BELIAU BERSAMA SAIDINA HAMZAH dan PARA SYUHADA' Baik di Malaysia atau seluruh dunia...
Amiin...

Tanda Tanda Kesyahidan Amrozy,Muhlas dan Imam Samudra

Kejadian aneh menghiasi prosesi pemakaman para Syuhada Tenggulun. Kira-kira menjelang jam sembilan pagi, tiga ekor burung berwarna hijau (Burung Karomah yang belum pernah terlihat di daerah Tenggulun sebelumnya).datang dan mengitari atas rumah keluarga Amrozi. Sontak pekikkan takbir dan suara tangis pecah. Tangis karena rasa haru yang sangat akan perjuangan ketiga Mujahid Indonesia tersebut.Inilah Karomah nyata yang diberikan Alloh kepada ketiga syuhada yang bisa disaksikan oleh ribuan masa yang hadir dengan kasat mata.

Awal mula kemunculan burung (burung Karomah) tersebut bersama kedatangan helikopter pembawa syuhada 2 ekor dari arah timur,dan satu ekor dari arah barat.Kemudian mereka bergabung lalu berputar-putar tepat di atas rumah Assyahid Ust Muklas dan Amrozi.
Usai berpisahnya kawanan burung karomah tersebut 2 ketimur dan 1 kebarat terlihat lafat Alloh dari awan di langit diatas rumah Amrozi. Lebih dari 7 menit burung tersebut berputar-putar di atas rumah. Seakan memberikan persaksian bahwa mereka adalah syuhada.
Tak berapa lama kemudian ketiga burung tersebut terbang berpisah meninggalkan rumah Hj. Tariyem, berikut rekamannya :



"Bismillahirrahmanirrahim":

وعن ابن مسعود رضي الله عنه أن أصحاب النبي صلى الله ع…
وعن ابن مسعود رضي الله عنه أن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم سألوه عن هذه الآية : (( و لا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتاً بل أحياء عند ربهم يرزقون )) سورةآل عمران : 169 . فقال صلى الله عليه وسلم : (( أرواحهم في جوف طير خضر لها قناديل معلقة بالعرش تسرح من الجنة حيث شاءت ثم تأوي إلى تلك القناديل ، فاطلع إليهم ربهم إطلاعة فقال : هل تشتهون شيئاً قالوا : أي شيء نشتهي و نحن نسرح من الجنة حيث شئنا ففعل ذلك بهم ثلاث مرات ، فلما رأوا أنهم لن يتركوا من أن يسألوا قالوا : يا رب نريد أن ترد أرواحنا في أجسادنا حتى نقتل في سبيلك مرة أخرى ، فلما رأى أن ليس لهم حاجة تركوا )) أخرجه مسلم

"Dari Ibnu masud.ra. bahwa murid beliau menanyakan tentang tafsiran ayat Jangan kalian mengira bahwa orang terbunuh dijalan Alloh adalah mati. Namun mereka tetap hidup disisi Tuhan mereka dan berlimpah rizqi(Qs.Ali imran:169). Lalu beliau menjawab, bahwa Rosululloh.saw. telah bersabda: Roh-roh para syuhada berada dalam perut-perut burung hijau, memiliki sarang yang bergelatungan dibawah Arsy. Mereka berputar didalam syurga sekehendak burung-burung tersebut, lalu kembali sarangnya. Lantas Robb mereka(Alloh.swt) melihat sembari menawarkan: adakah kalian menginginkan sesuatu (nikmat lain)?, mereka menjawab: apalagi yang kami inginkan, sedang kami bebas berkeliling didalam syurga?. Lalu Alloh.swt. mengulangnya 3kali, dan merekapun menjawab dengan jawaban serupa.dan ketika mereka putus asa untuk lepas dari pertanyaan Alloh, maka mereka menjawab: Wahai Tuhan kami, kami ingin agar Enkau berkenan mengembalikan arwah kami dalam jasad kami, agar kami terbunuh dijalanMu sekali lagi. Saat Alloh tidak mendapati dari mereka sesuatu yang dibutuhkan, maka Ia membiarkan mereka. (HR Muslim)

أَلَمْ يَرَوْاْ إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَاتٍ فِي جَوِّ السَّمَاء مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلاَّ اللّهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

"Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang beriman. (QS. An Nahl:79)"

Semoga mata hati kita tidak tertutup untuk membaca Tanda-tanda dari Alloh SWT…

http://eradajjal.blogspot.com

Mau Latihan Sebelum Jihad kuk Malah ditembakin

Susaaaaaah bangget mau ngelakuin perintah ALLAH tuw
lagi latihan sebelum jihad malah pada ditembakin
lagi lagi Yahudi dengan tangan ASnya yang berada dibalik layar
bakal perang sampe akhir jaman ne
luw jual gw beli dah
kita umat Islam g takut sama kalian wahai antek antek Yahudi
Tunggu pembalasan kami . . .







Jumat, 26 Maret 2010

Melejitkan Berkah Ramadhan Dengan Jihad


Ramadhan Bulan Istimewa



Puasa, adalah ciri khas yang terutama di bulan Ramadlan, sebab itulah perintah khusus dari Allah di bulan ini. Meskipun dalam keadaan lapar dan haus karena puasa bukan berarti Ramadlan adalah bulan lemes dan malas. Memang ada yang membuat hadis sendiri, “Tidurnya orang puasa adalah ibadah”[1]. Kalaupun ungkapan itu hadis maka hadisnya tidak shahih.



Meskipun dalam keadaan lapar dan dahaga, seorang muslim tidak boleh malas di tengah puasanya. Ia harus aktif melakukan berbagai ketaatan kepada Allah dan kebaikan kepada sesama manusia. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mendorongnya demikian. Karena banyaknya amal kebaikan yang didorongkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai beliau membuat sebuah perumpamaan, Pada bulan Ramadlan seluruh pintu dibuka dan saluruh pintu nereka dikunci rapat-rapat, serta syetan diborgol tangan dan kakinya.



Makna dari hadis tersebut, bahwa di dalam bulan Ramadlan Rasulullah telah menggelar berbagai ketaatan dan kebaikan, serta menekan semaksimal mungkin faktor-faktor yang memicu terjadinya kejahatan. Selanjutnya, setelah memahami karakter Ramadlan seperti ini maka hendaklah setiap muslim berjuang mengalahkan keinginan-keinginan pribadinya. Dengan kata lain seorang yang berpuasa haruslah berjuang untuk meraih sukses di bulan Ramadlan.



Puasa seorang muslim haruslah diikuti dengan memperbanyak amal ibadah, dan menekan berbagai keinginan yang tidak senafas dengan syari’ah. Tanpa melakukan penaklukan terhadap hawa nafsu, puasa yang dilakukan menjadi tidak bernilai, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,



مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ



“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh darinya untuk meninggalkan makanan dan minumannya”.(HR al-Bukhari)



Ramadhan dan Jihad



Usaha untuk mengendalikan hawa nafsu termasuk ke dalam salah satu bentuk jihad fi sabilillah. Firman Allah,



وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ



“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (al-Ankabut:69)



Jihad yang disyari’atkan oleh Allah dan RasulNya memiliki beberapa tingkat dan macam. Jihad yang tertinggi, terberat dan terbesar adalah berhadapan dengan musuh umat Islam di medan laga. Firman Allah;



فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا



Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar. (al-Furqan:52)



Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda;



أَمَّا رَأْسُ الأَمْرِ فَالإِسْلاَمُ فَمَنْ أَسْلَمَ سَلِمَ وَأَمَّا عَمُودُهُ فَالصَّلاَةُ وَأَمَّا ذُرْوَةُ سَنَامِهِ فَالْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ



Adapun Pokok persoalannya adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fi sabilllah (HR Ahmad)



Berbagai macam jihad, dari jihad nafs, jihad amar ma’ruf nahi munkar, hingga jihad kuffar dengan senjata semuanya telah disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di bulan Ramadlan ini. Dengan demikian, secara umum, bulan ini bisa dinamakan juga dengan bulan jihad.



Kesalahan Umat Islam



Di abad ke 15 hijriyah ini, bulan Ramadlan dianggap sebagai bulan suci. Anggapan itu muncul karena di bulan ini dilakukan berbagai ritual ibadah. Karena itulah kemudian sebagian kaum muslimin menganggap di bulan ini tidak selayaknya terjadi kekerasan dan pertumpahan darah. Sebab jika terjadi pertumpahan darah, maka orang tidak akan bisa merasa khusyu’ dalam menunaikan berbagai ibadah.



Penilaian seperti ini tampak dari berbagai pernyataan para tokoh yang cukup terpandang, baik di negeri ini maupun di negeri seberang. Di negeri ini, pernah terjadi insiden Monas di tahun 2008 dan bertepatan pada bulan Ramadlan, kemudian di situs milik Gus Dur muncul statemen, “Lebih ironis lagi, kekerasan yang terjadi pada pukul 17.00 WIB ini berlangsung dalam suasana Ramadlan yang dianggap umat Islam sebagai bulan suci yang harus dihormati”.



Sementara itu, di negeri seberang juga berkembang anggapan serupa. Di antara pernyataan yang menandai berkembangnya pemahaman demikian mengalir dari seorang presiden, yakni Presiden Somalia dukungan Amerika, Syaikh Sharif Ahmed. Karena semakin gencarnya serbuan Syabab Mujahidin dan membuat tentara Somalia dan juga tentara Uni Afrika kalang kabut, lalu Syaikh Ahmad meminta para pejuang melepaskan senjata untuk menghormati bulan suci tersebut



Ada lagi penyimpangan di kalangan kaum muslimin yang sudah mengetahui bahwa bulan ramadlan adalah bulan Jihad. Mereka menarik pengertian jihad dari jihadul kuffar dan menfokuskannya pada jihad hawa nafsu. Untuk mengesahkan pendapat mereka itu, mereka bawakan hadis…



رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ اْلأَكْبَرِ قَالُوْا وَمَا الْجِهَادِ اْلأَكْبَرِ ؟ قَالَ جِهَادُ النَّفْسِ



Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar, lalu para shahabat bertanya, apakah jihad akbar (besar) itu? Belau menjawab, “Jihad hawa nafsu”



Hadis ini bukanlah hadis yang shahih. Ibnu Hajar di dalam kitab Tasdid al-Qus menyebutkan bahwa kalimat ini adalah kata-kata Ibrahim bin Abi ‘Ublah ketika berada di rumah an-Nasa’i. Karena hadis ini dla’if, maka tidak bisa menjadi pegangan. Bahkan hadis palsu ini bertentangan dengan ayat 52 surat al-Furqan.



Bahkan jika kita menelisik sejarah kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para salafusshaleh, Ramadlan ternyata merupakan bulan untuk berjihad. Fakta sejarah menunjukkan bahwa beberapa peperangan dilakukan pada bulan ini. Bahkan peperangan itu adalah perang-perang yang sangat penting dalam sejarah Islam. Di antara perang-perang yang dilaksanakan pada bulan Ramadlan adalah;



PERANG BADAR KUBRA



Perang badar kubra merupakan perang yang paling penting dalam sejarah Islam. Kalau dilihat dari jumlah pasukan memang tidak seberapa, hanya 1000 orang dari pihak musyrikin dan 300 orang dari pihak kaum muslimin. Namun dilihat dari perannya memiliki nilai yang amat strategis.



Al-Qur’an menyebut perang Badar Kubra ini dengan perang pembeda (yaumul Furqan). Yaitu pembeda antara al-haq dan bathil, al-Haq ada di pihak Islam dan al-bathil ada di pihak musyrikin Quraisy.



Pada hari tersebut rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memanjatkan doa, menengadahkan tangannya kelangit, dengan sepenuh hati beliau berdoa kepada Allah hingga selendang beliau terlepas dari kedua pundak beliau, beliau mengucapkan;



اللَّهُمَّ إِنَّ هَذِهِ قُرَيْشٌ قَدْ جَاءَتْ بِخَيْلِهَا وَخُيَلاَئِهَا تَرْجُوْ نَبِيَّكَ، اللَّهُمَّ أَنْجِزْ وَعْدَكَ فِي قُرَيْشٍ، اللَّهُمَّ إْنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ فَلَنْ تُعْبَدَ فِي اْلأَرْضِ أَبَدًا



Ya Allah, orang Quraisy telah datang dengan pasukan mereka dan juga dengan kesombongan mereka. Mereka berharap bisa menghabisi nabiMu, Ya Allah penuhilah janjiMu terhadap Quraisy. Ya Allah, jika kelompok ini kalah maka Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini selamanya



Doa tulus yang dipanjatkan oleh manusia terbaik, Rasulullah dan diiringi dengan usaha keras yang ikhlas dari para shahabat baik Muhajirin maupun Anshar, menyebabkan turunnya pertolongan Allah dan datanglah kemenangan kemenangan yang besar, sebagaimana firman-Nya;



قَدْ كَانَ لَكُمْ آَيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ



Sesungguhnya Telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang Telah bertemu (bertempur). segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali Imran:13)



وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ



“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, Padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran: 123)



FATHU MAKKAH



Fathu Makkah termasuk peristiwa kedua yang paling penting dalam perjalanan hidup Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Kota ini memiliki peran yang sangat strategis di jazirah Arab, yaitu sebagai tempat untuk menunaikan ibadah haji dan umrah, juga sebagai pusat pertemuan manusia dari seluruh penjuru dunia.



Dakwah Islam tidak akan bisa berkembang ke seluruh penjuru dunia, bahkan jazirah Arab pun tidak akan mungkin, tanpa menguasai kota Makkah ini. Sementara itu para penyembah berhala masih menguasainya selama delapan tahun sejak hijrahnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah. Kekuasaan ini tentunya akan menghambat akses Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin untuk berda’wah. Sementara kaum Quraisy adalah sandungan utama dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.



Berbagai pertempuran antara kaum Muslimin dengan penduduk kota Makkah yang terlah terjadi berulang kali. Kemenangan pun silih berganti. Tetapi dengan berakhirnya perang Ahzab, dimana kaum Quraisy telah mengerahkan pasukan terbanyaknya, melibatkan 10.000 tentara, tetapi tidak sangup menghancurkan pasukan kaum muslimin, menjadikan posisi Islam semakin diperhitungkan.



Quraisy benar-benar memperhitungkan kekuatan kaum muslimin, hingga ketika beliau hendak memasuki kota Makkah untuk melakukan ibadah haji, meskipun tanpa membawa senjata, kaum Quraisy tidak berani berbuat lebih. Akhirnya mereka membuat perjajian dengan kaum muslimin yang disebut dengan perjanjian Hudaibiyyah.



Ketika kaum Quraisy mengkhianati perjanjian itu, maka segera rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyusun kekuatan untuk menaklukkan Makkah. Saat itu beliau berdo’a kepada Allah



اللَّهُمَّ خُذِ الْعُيُوْنَ وَاْلأَخْبَارَ عَنْ قُرَيْشٍ حَتَّى نَبْغَتَهَا فِي دَارِهَا



Ya Allah ambillah pandangan dan berita dari orang Quraisy, sehingga kami bisa menyergap mereka di dalam negeri mereka



Benarlah janji Allah, kaum Quraisy tidak menyadari pergerakan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukannya. Mereka baru mengetahui gerakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah kota Makkah dikepung dengan puluhan ribu pasukan. Maka pasukan kaum muslimin pun berhasil memasuki kota Makkah tanpa perlawanan sama sekali. Dan Fathu Makkah merupakan awal mula hilangnya keterasingan islam, islam menjadi mulia di pertengahan semenanjung arab dan runtuhlah kekuasaan penyembah berhala.”



PERANG MU’TAH



Pada tahun kedelapan Hijriah, Rasulullah saw. mengirimkan pasukannya ke wilayah Syam. Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan yang membawahi 3.000 prajurit khusus, tanpa memobilisasi kaum muslimin Madinah. Saat itu Rasulullah saw. berpesan, "Jika Zaid gugur, yang menggantikan posisinya sebagai komandan pasukan adalah Ja‘far bin Abu Thalib. Jika Ja‘far bin Abu Thalib gugur, yang menggantikan posisinya sebagai komandan pasukan adalah Abdullah bin Rawahah."



Pasukan kaum Muslim berjalan hingga di Mu’an, kawasan Syam. Di sana mereka mendapatkan informasi bahwa pasukan Hiraklius telah tiba di Ma’ab, dengan membawa 200.000 tentara. Mendengar informasi tersebut kaum muslim sedikit terpengaruh. Namun, Abdullah bin Rawahah memberikan support kepada mereka seraya berkata, "Wahai kaum Muslim, demi Allah, sesuatu yang kalian takuti sebenarnya adalah perkara yang kalian cari selama ini, yaitu mati syahid. Kita tidak memerangi musuh atas dasar jumlah yang besar dan kekuatan yang besar, tetapi atas dasar agama Islam ini, dengan itu Allah memuliakan kita. Berangkatlah kalian, niscaya kalian akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, kemenangan atau mati syahid."



Setelah melalui pertempuran yang sengit, Zaid bin Haritsah gugur terkena lemparan tombak musuh. Bendera diambil-alih oleh Ja‘far bin Abu Thalib. Peperangan pun semakin sengit Ja’far terus menyerang musuh hingga gugur.



Meskipun Abdullah bin Rawahah semula memotifasi kaum muslimin untuk tetap maju perang, awalnya diapun ragu-ragu. Tetapi kemudian ia berkata, "Wahai diriku, aku bersumpah, engkau harus terjun ke medan perang. Engkau harus terjun ke medan perang, atau aku yang akan memaksamu terjun….Wahai diriku, apabila engkau tidak terbunuh, maka engkau tetap akan mati. Itulah kendali kematian yang telah mengenaimu. Apa yang engkau idam-idamkan telah diberikan kepadamu. Apabila engkau menjalankan perbuatan dua orang (maksudnya Zaid bin Haritsah dan Ja‘far bin Abu Thalib), maka engkau memperoleh petunjuk." Kemudian Abdullah bin Rawahah terjun ke medan perang hingga gugur sebagai syahid.



Setelah Abdullah bin Rawahah gugur, kaum Muslim kemudian mengangkat Khalid bin Walid sebagai komandan perang. Ia melanjutkan peperangan melawan musuh hingga menjelang malam. Pada malam harinya kaum Muslim berunding dengan Khalid bin Walid dan memutuskan untuk mengalahkan musuh dengan menggunakan siasat guna. Khalid memerintahkan beberapa kelompok prajurit kaum Muslim pada pagi harinya agar berjalan dari arah kejauhan menuju medan perang dengan menarik pelepah-pelepah pohon sehingga dari kejauhan terlihat seperti pasukan bantuan yang datang dengan membuat debu-debu beterbangan. Pasukan musuh yang menyaksikan peristiwa tersebut mengira bahwa pasukan kaum Muslim benar-benar mendapatkan bala bantuan. Mereka berpikir, berperang dengan 3.000 orang saja kewalahan, apalagi jika datang pasukan bala bantuan. Karena itu, pasukan musuh akhirnya meundur dari medan perang.



Mundurnya pasukan Romawi membuat paukan kaum muslimin lega. Yang mengagumkan, dalam pertempuran yang sangat dahsyat, hanya 12 orang yang syahid. Sementara dari pihak Romawi berpuluh-puluh orang tewas.



PERANG TABUK



Perang tabuk adalah peperangan terakhir yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Peperangan ini dipicu oleh rencana raja Romawi untuk menyerang Madinah, sebagai balas dendam atas kekalahannya di perang Mu’tah. Munculnya berita ini menunjukkan bahwa kaum muslimin tidak saja disegani oleh penduduk Jazirah Arab, tetapi juga ditakuti oleh negara adi daya Romawi.



Mendengar berita itu, Rasulullah segera memobilisasi kaum muslimin untuk menghadapi pasukan Romawi. Di tengah musim panas yang ekstrim, dengan kondisi perjalanan yang sangat berat, Rasulullah berhasil mengumpulkan pasukan dengan kekuatan sebesar 30.000 orang. Saat itu seluruh penduduk Madinah yang tidak ada udzur berangkat berjihad, kecuali tiga orang, yaitu Ka’b bin Malik, Murarah bin Rabi’ dan Hilal bin Mu’awiyah.



Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam berangkat menuju Tabuk, Raja Romawi telah mendengarnya. Mengetahui besarnya jumlah pasukan yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, ia teringat kekalahannya di Mu’tah. Jika 200 ribu dapat dikalahkan oleh 3000 orang, maka berapakah jumlah pasukan yang sanggup mengalahkan 30.000 orang? Karena itulah raja Romawi memilih untuk membatalkan rencana penyerangan terhadap kaum muslimin. Meskipun demikian Rasulullah tetap melanjutkan perjalanan hingga di Tabuk. Di sana beliau tinggal selama 20 hari dan membuat perjanjian dengan beberapa penguasa lokal.



Seusai perang Tabuk, Allah menurunkan wahyu kepada kaum muslimin yang berisi peringatan agar kaum muslimin tidak merasa berat untuk memenuhi seruan jihad. Firman Allah, ”Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia Ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (at-Taubah:38-39)



PERANG QADISIYYAH



Tahun ke 15 Hijriyah adalah tahun penaklukan bagi umat Islam, khususnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu Umat Islam menghadapi dua peperangan besar dalam waktu yang hampir bersamaan, yaitu perang Yarmuk dan Perang Qadisiyyah. Namun peperangan yang terjadi di bulan Ramadlan adalah perang Qadisiyyah.



Perang Qadisiyah ini melibatkan 3000 pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Sa'ad bin Abi Waqqash. Pada saat itu pasukan kaum muslimin berhadapan dengan pasukan penyembah api yang berjumlah 4 kali lipat. Pasukan musuh saat itu dipimpin oleh seorang panglima kenamaan, Rustum Farrokhzad.



Pada pertempuran ini Sa'ad sendiri tidak bisa memimpin pasukannya secara langsung karena sakit bisul yang parah. Tetapi dia tetap memonitor jalannya pertempuran. Pada mulanya pasukan kaum muslimin kalang kabut menghadapi pasukan Persia yang sangat banyak dan berkendaraan gajah. Problem paling serius yang dihadapi adalah kesulitan menghalau gajah-gajah itu.



Tetapi pada hari berikutnya, kaum muslimin menggunakan taktik yang cerdik untuk menakut-nakuti gajah Persia yaitu dengan memberi kostum pada kuda-kuda perang. Terlebih lagi dengan datangnya tambahan pasukan yang telah berhasil memenangkan perang Yarmuk. Taktik ini menuai sukses sehingga gajah-gajah Persia ketakutan. Bahkan setelah kekalahan pasukan gajah ini, datanglah pertolongan Allah subhanahu wata’ala. dengan terjadinya badai pasir yang mengarah ke pasukan Persia sehingga melemahkan barisan mereka. Kesempatan emas ini segera dimanfaatkan untuk menggempur pasukan Persia, bahkan panglima mereka Rustum tertangkap lalu dipenggal lehernya.



Setelah pertempuran ini, pasukan muslim terus mendesak masuk dengan cepat sampai ke ibukota Persia, Mada'in. Tunduknya Mada’in menandai hancurnya kekaisaran Persia dan menjadikannya sebagai daerah muslim sampai dengan saat ini.



Khatimah



Dari perjalanan sejarah tersebut tampak dengan jelas dan nyata bahwa berkah Allah diturunkan kepada hambaNya di bulan Ramadlan, dan dengan usaha yang benar. Setiap usaha akan mendapatkan berkah, dan semakin keras dan sungguh-sungguh maka keberkahan yang diturunkan oleh Allah akan semakin besar. Jika di bulan yang penuh dengan berkah ini diisi dengan jihad nafs, maka keberkahan dari Allah akan turun dengan memberikan ketenangan di dalam hati. Dan jika di bulan yang penuh berkah ini diisi dengan jihadul kuffar, maka Allah akan menurunkan berkah yang lebih besar lagi, berupa tamkin bagi ummat ini.



Firman Allah,



وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ



”Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (an-Nur:55)


[1] Ada hadis yang semakna dengan ungkapan tersebut, diriwayatkan dari Abu Aufa oleh al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, dan dari Ibnu Mas’ud oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyatul-‘Auliya’ dengan lafal



نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ



Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, dan do’anya dikabulkan, dan amalnya dilipat gandakan



Hadis ini dla’if, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh nashiruddin al-Albani di dalam adl-Dla’ifah nomor 4696





[muslimdaily.net/abu nurul izzah]